Cinta di Tanah Ubud Part 2

Dari kejauhan, kulihat seorang laki-laki jakung, kurus, dan berambut ikal. Dia tampak serius memfoto gerombolan monyet juga. Sesekali dia melihat ke belakang, seperti menunggu seseorang yang jalan di belakangnya. Ah aku kenal orang itu. Dia Made, adik laki-laki dari seseorang yang aku cari. Made aja ada, kemana kakaknya ya?

Tak lama kemudian, seorang wanita yang sedang aku cari akhirnya kelihatan juga. Rambutnya yang panjang dan hitam, tampak berkilau di bawah sorot matahari. Kulitnya yang putih bening, membuat dia terlihat seperti bidadari tanpa sayap yang tersesat di hutan ini. Dia sedang mengobrol dengan dua turis yang berada di sampingnya.

“Cinta!” teriakku dari kejauhan.

Dia tak menoleh sedikitpun. Sepertinya dia tidak mendengar teriakanku. Atau mungkin, teriakanku kurang kencang?

“Cinta!” teriakku sekali lagi. Mendadak turis wanita di sampingku menoleh dan menatapku dengan sinis. Mungkin dia terganggu karena aku berteriak-teriak keras seperti orang gila. Cinta tetap saja tidak mendengar teriakanku. Ah sial!

Aku memutuskan untuk mendekatinya. Kesal rasanya sudah teriak-teriak mirip dagang obat di pasar, tapi Cinta tidak mendengarku. Aku berjalan pelan mendekati Cinta. Dia tetap cantik kalau sedang senyum seperti sekarang. Bibirnya yang tipis terlihat menggoda saat mengurai senyum manis. Cantiknya bidadari ini.

“Hey!” sapaku.

Cinta tampak kaget saat melihatku. Bibirnya langsung mengurai senyum yang hangat dan begitu tulus. Dia berbicara sesuatu ke kedua turis tersebut, lalu mereka meninggalkan kami. Mereka tersenyum ramah kepadaku, aku pun membalas senyumnya dengan ramah juga.

“Dee, tolong temani mereka yaa. Sini pinjam kameramu sebentar,” ujar Cinta kepada adiknya, Made.

Made pun mengalungkan kameranya ke leher Cinta. Lalu pergi meninggalkan kami berdua.

“Diyooon…” kata Cinta dengan manja. Tiba-tiba saja dia langsung memeluk tubuhku. “Apa kabar kamu?”

“Baik-baik aja. Kamu sendiri gimana?” Aku mencubit pipinya pelan. “Kamu kemana aja sih? Aku keliling nyariin kamu. Eh malah ketemunya lagi sama dua turis itu.”

“Aduh sakit tau!” Cinta mengusap-usap bagian pipinya yang aku cubit. “Mereka berdua itu tamunya Ayah. Hari ini Ayah lagi gak enak badan, aku diminta tolong untuk nge-guide mereka. Kebetulan tempat wisatanya di sini, ya sekalian aja aku bikin janji sama kamu untuk ketemu.”

“Oh gitu. Mudah-mudahan cepat sembuh yaa ayahmu,” kataku sambil mengelus rambut Cinta dengan lembut. “Sekarang, gantian kamu guiding aku dong!”

“Oke siap bos. Ayo kita keliling lagi!” ajak Cinta.

Kami berjalan berdampingan mengitari hutan ini. Cinta merangkul lenganku dengan erat. Menyalurkan kehangatan yang dapat mengobati kerinduanku yang teramat dalam. Wangi parfumnya yang lembut, membuatku terbang melayang ke udara. Aku sangat menikmat saat-saat seperti ini. Sepertinya, dunia hanya milik kami berdua. Aku dan Cinta.

Cinta mengajakku untuk melihat sebuah Pura yang berada di dalam hutan. Pura itu tampak menonjol di tengah-tengah hijaunya hutan. Bangunan Pura yang khas dan menarik untuk dipandang ini terlihat elegan berdiri di tengah-tengah hutan. Pura ini disebut Pura Dalem. Tempat beribadahnya masyarakat Hindu di Ubud. Aku pun mengambil beberapa gambar ke arah Pura itu menggunakan kamera di telepon genggamku. Tempat seperti ini wajib banget difoto!

Setelah puas berjalan-jalan mengelilingi Monkey Forest, kami memutuskan untuk beristirahat. Kami duduk di pinggiran pembatas antara jalan dengan hutan, tempat yang aku duduki saat menunggu Cinta tadi. Aku menghirup napas dalam-dalam, menikmati udara segar yang tersedia. Di sampingku, duduk seorang bidadari tanpa sayap yang kelihatannya sedang kelelahan. Tidak berlebihan rasanya kalau aku menyebutnya begitu. Melihat wajahnya saja sudah menyejukkan hatiku. Dia menghela keringat yang mulai menetes dari dahinya. Menyadari kalau sedang aku perhatikan, Cinta menatapku dengan wajah kebingungan.

“Lihat apa sih?” tanya Cinta sambil senyum. Menggemaskan.

“Enggak. Aku heran aja ada bidadari nyasar di hutan ini,” jawabku.

“Siapa?”

“Kamu.”

“Ah gombal deh!” Cinta menyubit perutku. Untung saja rata dan keras begini.

Aku merasa seperti ada yang menarik-narik bajuku dari belakang. Setelah kutengok, terlihat seekor monyet berukuran sedang berada di belakangku. Dia langsung memanjati punggungku, lalu duduk di atas kepala. Aku kaget dan sedikit takut. Takut kalau nanti monyet ini mencakar wajahku. Atau lebih parahnya lagi, monyet ini malah buang kotoran di atas kepalaku. Aduh ngeri!

Melihat wajahku yang memancarkan rasa takut, Cinta malah tertawa tergelitik. Dia tak tahan melihat wajahku yang mendadak pucat---yang menurutnya lucu itu. Dia memberi aba-aba kepadaku agar menahan posisi seperti sekarang. Kemudian, dia membidik diriku menggunakan kamera yang dikalunginya, lalu… Jepret! Aku dan monyet itu berhasil terekam dalam satu frame. Monyet itu pun pergi meninggalkan kami. Mungkin dia kaget. Kemudian, Cinta menunjukan hasil fotonya kepadaku. Tidak terlalu buruk. Lucu juga!

“Kamu laper gak?” tanya Cinta tiba-tiba.

“Hmm… sedikit sih.” Padahal aslinya lapar banget. “Kenapa?”

“Kita makan yuk? Belum terlalu sore juga. Masih keburu kok.”

“Dimana?”

“Ada deh! Pokoknya kamu ikut aja.” Cinta tersenyum centil.

“Boleh deh. Tapi, Made gimana?”

“Ya kita cari sekarang. Ayo!” Cinta menarik tanganku agar segera bangun dari tempat duduk.

“Yuk.”

***

Kini aku berada di sebuah tempat makan yang letaknya di tengah-tengah sawah. Padi yang masih hijau dan beberapa burung perit yang berterbangan terlihat sangat indah. Aku, Cinta, dan juga Made berjalan masuk melewati jalan setapak yang dipaping batu kerikil. Tulisan “Bebek Bengil Dirty Duck Dinner” terlihat jelas di papan kayu yang berwarna coklat tua itu. Di bawah papan itu, terlihat dua orang lelaki mengenakan pakaian adat Bali sedang memainkan alat musik. Kata Cinta, alat musik itu namanya gender.

Made menuntun kami ke gazebo yang letaknya berdampingan dengan sawah. Setelah duduk dengan nyaman, seorang pelayan datang menghampiri kami. Dia memberikan menu sambil tersenyum. Aku yang baru pertama kali ke tempat ini memasrahkan pilihan makan siang kepada Cinta. Tak perlu waktu yang lama, Cinta sudah menyebutkan makanan dan minuman apa saja yang kami pesan. Pelayan itu mencatatnya dengan sigap dan cepat. Kemudian, dia meninggalkan kami.

Suasana yang asri ditambah angin sepoi-sepoi siang hari, membuat tubuh ini menjadi nyaman. Cinta pun tampak menikmati hembusan angin yang terlewat sejuk ini. Ah sejuknya!

“Gimana sekolahnya De?” basa-basiku ke Made.

“Ya gitu-gitu aja Kak,” jawab Made dengan gamang.

“Gitu gimana? Hahaha.”

“Syukurnya lancar aja Kak. Oh iya, Kak Diyon kapan balik ke Jakarta?” tanya Made.

“Bagus deh. Besok sore De. Hehehe.”

“Kamu pulangnya besok sore Yon?” Cinta mencolek pinggangku. “Wah, berarti nanti petang kamu harus ikut aku!”

“Kemana?”

“Jangan banyak tanya deh. Pokoknya kamu harus ikut! Oke?”

“Iya deh.”

Kadang-kadang ngeselin juga Cinta ini. Main rahasia-rahasiaan terus. Hih!

Beberapa lama kemudian, pelayan itu datang menghampiri kami membawa nampan yang berisi makanan yang kami pesan. Akhirnya datang juga. Tak bisa kumengelak, bahwa cacing-cacing di dalam perutku sudah meronta dengan liar meminta jatah makanan. Kini, makanan yang kami pesan pun sudah tersaji di atas meja. Hmm!

Hidangan spesial khas tempat makan ini sangat menggodaku. Bebek goreng ditemani oleh potongan buah semangka dan jeruk nipis menghiasi piring makan. Tak ketinggalan juga nasi putih bersama sambel matahnya. Kelanjar air liurku memproduksi air liur lebih banyak dari biasanya. Tak bisa kutahan.

Selamat makan!

Kami mulai makan. Sesuir daging bebek aku ambil, kutambahkan sedikit sambal matah, lalu aku makan dengan nasi. Daging bebek yang empuk ditambah nasi yang pulen menjadi perpaduan yang sangat harmonis. Potongan bawang merah di sambal matah itu terasa renyah-renyah di mulut. Lengkap.

Tak butuh waktu lama, semua makanan yang kami pesan pun habis. Memang dasarnya sebelum ke tempat ini perut kami sudah sangat lapar. Es teh yang aku pesan pun menjadi penutup makan siang. Perut kenyang hati pun senang. Angin sepoi-sepoi khas sawah ini memang nikmat banget dirasain setelah makan. Rasanya ingin tidur saja. Aku menyenderkan diri di pembatas gazebo, menghirup udara segar, sambil menikmati pemandangan sawah. Surga.

***

Dimana sih Cinta?

Aku menunggunya di depan sebuah tempat di Ubud. Bangunan artistik khas Bali ini menjadi pemandanganku saat menunggu. Padahal dia yang membikin janji kepadaku untuk bertemu di tempat ini tepat pukul jam 7 malam. Tapi, hingga jam di tanganku hampir menunjukan pukul 7.30 dia belum juga datang. Untung saja bangunan ini memiliki arsitektur yang unik dan keren. Jadi tidak terasa bosan.

“Maaf Diyon. Kamu sudah lama yaa nunggu?” terdengar suara dari belakangku. Ah itu Cinta.

“Hmm… menurut kamu?”

“Ih kok jutek gitu sih?”

“Yaa habisnya kamu telat sih.”

“Iya deh aku minta maaf. Yuk kita masuk!”

Kami pun berjalan masuk ke sebuah tempat yang sudah dijanjikan oleh Cinta. Puri Saren Ubud namanya. Bangunan khas Bali ini menjadi tempat tinggal raja Ubud beserta keluarganya. Ukiran-ukiran khas Bali memenuhi sudut-sudut bangunan. Mataku sangat dimanjakan oleh tempat ini.

Di dalam, terlihat beberapa turis yang sudah mengisi tempat duduk yang di sediakan. Kami memilih duduk di deretan tengah, bersebelahan dengan turis wanita berambut pendek dan pirang. Dia tersenyum ramah saat kami duduk di sebelahnya. Kami pun membalas senyumnya dengan ramah juga.

Langit mulai gelap. Lampu sorot sudah mengarah ke depan gapura. Alunan musik gamelan mulai bersuara dengan gagahnya. Bersamaan dengan itu, keluar dua orang penari yang memakai pakaian tari adat Bali. Pakaian yang mayoritas bewarna keemasan, terlihat sangat cocok dipakai oleh dua orang gadis itu. Cantik.

Tari Legong, jelas cinta saat dia melihatku melongo karena tidak mengetahui nama tari yang sedang dipentaskan ini. Goyang tubuh penari yang gemulai, terlihat padu dengan suara gamelan yang memanjakan telinga. Sorot matanya yang tajam, mengikuti tempo musik gamelan. Wajahku tak henti-hentinya memandangi kedua gadis ini. Seakan gerakan tarinya menghipnosis penonton agar selalu memandang ke mereka.

Begitupula dengan turis yang ada di sebelahku. Sepertinya dia tak berkedip sedikitpun sejak pertunjukan tari baru mulai. Menurutku, pertunjukan tari yang sedang kami tonton ini adalah salah satu pertunjukan terbaik yang pernah aku tonton. Keren.

Tak terasa, pertunjukan tari pun usai. Puas rasanya setelah satu jam kami menikmati pertunjukan tari ini. Perasaan senang dan puas tampak di wajah penonton. Begitupula dengan Cinta, wajahnya yang manis memancarkan perasaan senang. Ah cantiknya. Aku rangkul badannya pelan, lalu tubuhnya berada dalam dekapanku. Kini aku memeluk hangat Cinta, wanita terindah yang selalu ada untuku sejak kecil.

Aku akan datang lagi ke Ubud. Rindu akan suasananya yang hangat, ramah, dan memorable. Aku akan datang lagi ke Ubud. Menemui wanita berparas jelita, yang selalu ada untukku sedari kecil, sahabat kecilku, Cinta. Aku pasti akan ke sana lagi Cinta.

And when the daylight comes I’ll have to go---

“Halo selamat siang!” sapaku di telepon.

“Halo. Saya sudah di sini nih. Anda dimana mas Diyon?”

Mampus aku! Klien sudah di tempat janjian sedangkan pesanannya belum selesai. Gawat!

14 komentar

Udah baca part 1-2. So far udah bagus dek wang,kamu cukup detil menjelaskan tempat2 yg ada di ubud,aku rasa inti dari cerita ini monkey forest,restoran bebek,pura dalem dan msh byk lagi..mgkn typo aja yg hrs lbh diteliti dan sebisa mgkn dihindari :) Good Job.. *IMHO*

Balas

Wah masih ada yg typo yaa? Kurang teliti nih gue. Makasi kakk

Balas

Cara berceritanya mengalir, enak dibaca. Endingnya bikin ngakak. 4/5 stars :)

Balas

Hey! Thanks a lot ngel. Hahaha dapet 4 stars dari penulis Tears in Heaven asyiiik :D

Balas

keren wang. ceritanya juga enak.
yang kayak gini ya alur mundur yang lo bilang itu?
tapi, gua masih kurang ngeh dgn endingnya.
soalnya tiba-tiba uda nelpon aja sih. gak ada semacam isyarat kalau dia uda kembali ke dunia nyata sehabis mengkhayal

Balas

Thanks man.. iya kayak gini man heheh..
Endingnya? Ada bagian yang miss lg ya? Oke man thanks

Balas

Keren ey :))
Eh lo yg dateng keacaranya adis itu bukan si waktu di mall bali galeria? *sok tau bgt*

Balas

Thanks yee..
Iyaa kok tau? Gue yang duduk paling depan itu. Lo yang ngasih adis doodle art itu bukan?

Balas

Bhahaaak bener berarti. Iyeee gue kasih adis doodle art. Wah wah anak KK bali dikit banget yak. Setau gue cuma 3 org sama lo jd 4 :|

Balas

Wah lo anak KK juga yaa? Regional mana? Iyee Bali dikit anak KK nyaa..

Balas

Lah gue regional bali kok. Bahahhahaak kopdar yooooo

Balas

Wah bali juga yaa? Boleh, kabarin gue aja kalau mau kopdar

Balas

Setelah membaca, yuk donasikan komen bekualitas kalian ke blog ini! Komen yang baik dan berkualitas dari kalian sangat berarti bagi gue. Tulis di bawah ini ya!

Hak Cipta 2014 - Wangga Kharisnu's Blog
Desain oleh Jang!