Kisah Pahit Sembelitor

Gue nengok ke jendela. Di luar rintik-rintik hujan membasahi halaman rumah Widi. Mau pulang ke rumah, hujan. Takut kebasahan, nanti kalau gue berubah jadi putra duyung di tengah jalan gimana? Naik motor pakai jas hujan sambil mengklepek-klepekan kaki yang sudah berubah jadi kaki putra duyung, kan ngeri. Nanti gue disangka putra duyung yang salah gaul. Yang milih ngegaulnya di jalan raya pakai sepeda motor. Aduh.

Jadilah gue terperangkap di rumah Widi. Bagaikan babon jantan yang tak bisa menghirup udara lepas karena mendekam di penjara. Si babon ini habis ketangkep gara-gara nyimeng di depan kantor polisi. Bego banget dia. Gue duduk di pinggiran jendela ruang tamunya. Masih tetap menikmati hujan yang turun.

Entah kenapa kalau hujan turun, gue jadi seneng mandanginnya. Butir demi butir hujan yang turun dari langit. Menyentuh tanah lalu membentuk suatu percikan yang keren abis. Kalau di slow motion-in tuh, mata gue pasti gak kedip-kedip ngeliatnya. Apa gue salah gaul tingkat kronis? Ah masa bodo.

“Ngapain lo bengong gitu?” tanya Widi.

“Liatin hujan,” jawab gue singkat.

“Hujan kok diliatin? Sini main FIFA 14 sama gue!” 

“FIFA?” Gue menengok ke arah Widi, lalu memalingkan wajah kembali. “Bentar lagi deh. Belum puas liatin hujan nih.”

Widi lalu berdiri di samping gue sambil menggaruk-garukan pahanya. “Gimana kalau download ‘itu’? Ada yang baru tuh!”

“Kalau 'itu' mah ayuk!” kata gue dengan semangat.

Ternyata perhatian gue bisa dialihkan oleh iming-iming mendownload ‘itu’an. You know what I mean lah teman 18 ++. Hehe.

Gue beranjak dari tempat menikmati hujan menuju komputer. Gue duduk bersebelahan dengan Widi, tapi tidak bergesekan. Bahaya. Nanti kalau sering terjadi gesekan diantara kami, bisa menimbulkan api kejijikan. Karena diantara kami tidak ada yang homo. Syukur.

Widi pun langsung mengambil alih keyboard dan mouse dengan cepat. Sedangkan gue, hanya memandangi layar komputer dengan nafsu yang menggebu. Bayang-bayang wanita ngangkang yang itunya dilalerin sudah sliwar-sliwer di pikiran gue. Widi membuk browser lalu mengetik alamat website.

Bentar, emangnya Youtube ada begituan?

Wah ngibul nih si Widi.

“Ngapain buka Youtube?” tanya gue dengan lugu.

“Iyaa katanya lo mau liat ituan? Ini ada yang baru. Hot banget!”

“Serius? Buruan dong Wid!” seru gue.

Dengan cekatan, tangan Widi mengetik keyword di kolom pencarian Youtube. Lalu mengklik sebuah video ‘hot’ yang dimaksud Widi.

Astaga! Gue jadi lemes habis nonton video itu saking hotnya. Lemes se lemes lemesnya. Pensaran videonya apa? Nih tonton!



Gimana? Lo lemes juga gak kayak gue? ‘Hot’ banget yaa videonya? Merinding gue.

Gue gak kuat nonton video itu sampai habis. Hotnya kelewat batas. Sampai bikin kaki gue geter karena saking hotnya. Haah. Ngerasa bosan, gue langsung ngajakin Widi main FIFA 14. Pengin bales dendam juga sih. Soalnya dari waktu itu, Barca yang gue pakai belum pernah ngalahin Chelsea-nya Widi. Unbeaten banget!

Permainan pun dimulai. Gue berusaha bermain dengan serius. Pengin rasanya gue bales dendam. Ngebabat habis Chelsea. Gak terima aja gitu gue kalah terus-terusan. Ini Widi yang jago main atau gue yang mainnya kayak anak TK? Huh.

“ADUUUUUHHH!!” Terdengar teriakan dari dalam kamar Widi.

Gue dan Widi pun saling bertatapan. Bengong beberapa detik, lalu mem-pause permainan kemudian berlari menuju kamar Widi.

Terlihatlah seorang anak kuda nil yang tergeltak lemas sambil megangin perutnya. Oke bukan kuda nil, dia manusia biasa. Bukan juga manusia yang bisa berubah jadi kuda nil saat malam hari. Bukan. Dia adalah saudaranya Widi, namanya Kena.

“Lo kenapa Ken?!” tanya Widi dengan panik.

“AAARRGHH… ADUUUUUUH!” Kena masih berteriak.

“Woi kenapa lo?” tanya Widi sekali lagi.

Kena tak menjawab. Dia hanya mengerang kesakitan sambil memegangi perutnya. Gue cuma bisa nahan tawa saat melihat wajah Kena seperti itu. Mirip kuda nil yang gak buang air selama dua abad. Jahat banget gue.

“Lo kerasukan yaa Ken?” tanya gue dengan lugu.

Kena menggeleng. Tanda bahwa dia tidak kerasukan roh babon jenis apapun. Aman.

“Kalo gitu, lo mau ngelahirin ya?” tanya gue lagi. Kali ini makin bego.

“NGELAHIRIN MONYONG LO!” sewot Kena sambil megangin perutnya. “Perut gue sakit nih gak bisa boker. Aduuuh.”

“Oh,” jawab gue singkat. Gue ngerasa gagal pernah jadi anak SMA yang belajar sistem pencernaan di pelajaran Biologi.

“LO HARUS KELUARIN ITU BAYI, KEN!” teriak Widi. Dia jadi ikutan salah gaul. Aduh.

Kami bopong tubuh Kena menuju kamar mandi yang letaknya di sebelah kamar Widi. Jadi gak perlu berlama-lama menahan berat badan Kena yang lumayan ini. Kami pun membukakan pintu kamar mandi, lalu mendudukannya di WC.

“Lo bisa buka celana sendiri kan?” tanya gue.

“Bisa lah kampret! Udah, buruan keluar deh kalian!” Tampang Kena masih sama. Kayak kuda nil yang gak boker-boker dari dua abad lalu.

Gue menutup pintu kamar mandi dan meninggalkan Kena berjuang sendirian. Beberapa detik setelahnya, terdengar lagi suara teriakan Kena. Sepertinya dia kesakitan. Apa bayinya segede jeruk Bali kali yaa? Sampai itunya gak muat ngeluarin gitu.

“Huh hah huh hah.. Aaarrgghh.” Samar-samar gue dengar teriakan Kena.

“Dorong terus Ken! Sampai keluar!” teriak Widi menyemangati.

“Aduuuhaaarghh huh hah huh hah.”

“Iya Ken dorong! Semangat Kena! Go Kena go!” Gue makin salah gaul.

“HUH HAH HUH AAAAARGHHH AAAAAAH!”

Bles.

Lalu terdengar suara tangisan bayi. Oke bukan. Gak ada suara apapun kecuali suara Kena yang lagi ngos-ngosan. Sepertinya dia berhasil mengeluarkan ‘bayi’nya itu dengan selamat.

Beberapa menit kemudian, Kena keluar dari kamar mandi. Rawut wajahnya campur aduk. Ada kelegaan dan juga kelelahan bersarang di wajahnya. Dia langsung masuk ke dalam kamar Widi, lalu merebahkan badannya. Kemudian… tidur. Keren.

Jangan anggap remeh hal ini yaa! Gak bisa buang air besar atau kecil itu bahaya lo buat kesehatan tubuh. Gue pernah baca, katanya kalau gak bisa buang air besar itu bisa menyebabkan kematian lho. Hiii.. serem!

8 komentar

Mantab wang!! Untung gue bisa boker tiap hari.. hehe

Balas

apanya mantaps? Syukur yee

Balas

awalnya syahdu(?) makin ke bawah makin ngaco. keren sih, lucunya dapet, ilmunya juga dapet. :D

Balas

Setelah membaca, yuk donasikan komen bekualitas kalian ke blog ini! Komen yang baik dan berkualitas dari kalian sangat berarti bagi gue. Tulis di bawah ini ya!

Hak Cipta 2014 - Wangga Kharisnu's Blog
Desain oleh Jang!